Biografi Farah

 

Melewati Hari, Mewujudkan Mimpi
Oleh Farah Nafiah Widyaningsih (25091220149)

Namaku Farah Nafiah Widyaningsih, aku lahir di kota budaya yang hangat dan penuh sejarah dan sering di sebut sebagai kota Pelajar,. Yogyakarta, pada tanggal 22 Agustus 2006.  Kota ini memiliki tempat tersendiri di hatiku. Setiap sudutnya seolah bercerita, dan sejak kecil aku merasa dekat dengan suasana yang penuh kedamaian dan nilai-nilai kearifan lokal. Tempat aku tumbuh dan belajar tentang arti kehidupan.Aku merasa beruntung dilahirkan di kota ini, karena sejak kecil aku tumbuh di tengah suasana yang sarat nilai tradisi, seni, dan pendidikan. 

Sejak kecil, aku dikenal sebagai anak yang pendiam, tapi penuh rasa ingin tahu. Aku suka mengamati sekitar, memperhatikan hal-hal kecil, dan sering tenggelam dalam imajinasi sendiri. Salah satu kenangan masa kecil yang paling membekas adalah ketika aku bermain membuat rumah-rumahan dengan kardus bekas yang ada di warung kelontong simbah saya. Saat itu saya belum mengenal handphone seperti yang sekarang ini. Itu terasa sederhana, tapi begitu hangat dan menyenangkan.

Sebagai anak perempuan yang lahir dan besar di lingkungan yang sederhana namun penuh kasih sayang, aku merasa masa kecilku sangat berarti. Aku dibesarkan dalam keluarga yang selalu mengajarkan pentingnya kejujuran, kerja keras, dan rasa syukur. Walaupun tidak selalu hidup dalam kelimpahan materi, aku merasa tidak pernah kekurangan cinta. Aku belajar banyak hal, bukan hanya tentang bagaimana menyapu lantai atau menyimpan sepatu di tempatnya, tetapi juga tentang bagaimana menghormati orang lain, memaafkan kesalahan, dan berbagi meskipun sedikit.

Hobi masa kecilku sederhana: menggambar di tembok rumah dengan pensil , menyanyi walau suara tidak mendukung, membaca buku cerita bergambar, dan kadang-kadang, hanya duduk atau tiduran diam sambil mendengarkan suara angin atau gemericik air hujan. Semua hal kecil itu memberiku kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan uang.

Kini, saat mengingat masa kecil itu, aku merasa sangat bersyukur. Tidak semua orang punya kenangan yang hangat dan penuh cinta seperti itu. Aku menyadari bahwa masa kecilku adalah akar dari siapa aku sekarang, seseorang yang belajar mencintai hal-hal sederhana, menghargai proses, dan percaya bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di tempat-tempat yang paling tak terduga.

Perjalananku di dunia pendidikan dimulai sejak usia dini, saat aku langsung masuk ke Taman kanak-kanak ( Al - Husna ) kelas 0 kecil di lingkungan tempat tinggalku di Yogyakarta. Iya, aku tidak paud dahulu, tetapi mengulang 2 tahun di kelas 0 besar agar aku cukup umur masuk ke SD.  Meski masih kecil, aku sangat menikmati hari-hari di TK, bermain sambil belajar, menyanyi bersama teman-teman, dan membuat kerajinan tangan dari kertas warna-warni. Di sinilah aku pertama kali belajar bersosialisasi di luar rumah, mengenal konsep berbagi, dan mulai memahami arti disiplin dalam hal-hal kecil, seperti antre makan dan merapikan mainan setelah digunakan. Tapi sayangnya, Ibuku tetap harus menunggu aku sampai aku pulang sekolah. Awalnya, aku sepemalu itu dan Aku sangat ingat saat perpisahan TK di Gembira Loka aku adalah perwakilan yang membacakan puisi untuk para guru dan orang tua yang hadir. Itu merupakan momen yang tidak pernah aku lupakan hingga saat ini.

Setelah lulus dari TK, aku melanjutkan ke SD Muhammadiyah Sokonandi . Di SD inilah aku mulai mengenal dunia belajar yang lebih serius. Aku memiliki teman dan guru yang sangat mendukung sehingga tiap semesternya aku tidak pernah lepas dari ranking 10 besar di kelas. Aku aktif dalam ekstrakuliluker, mulai dari menari, menggambar, bermain biola, dan drumband. Semua saya coba untuk mendapat pengalaman dan ilmu serta mencari bakat terpendam saya. 

Perlombaan yang pernah saya alami ketika SD adalah lomba memainkan biola namun tidak menang. Saya akui, saya hanya bisa untuk dasarnya namun cukup kurang untuk nada ketukan dan note nya sehingga tidak serasi. Itu merupakan lomba memainkan biola pertama dan terakhir kalinya. Setelah biola saya mengikuti lomba drumband, saya berperan sebagai pianika, alhamdulillah kami selalu membawa pulang piala. Saya pernah juga di tunjuk sebagai perwakilan sekolah yaitu lomba cerdas cermat bahasa Jawa dan cerdas cermat ( Siap-Siap Aku Bisa). 

Di kelas 6 saya mulai gigih di les kan sana sini oleh orang tua saya. Alhasil saya lulus dengan nilai yang memuaskan dan mendapat salah satu SMP favorit yang ada di Kota Yogyakarta yaitu SMP Negeri 1 Yogyakarta. Di SMP favorit bukanlah suatu hal yang mudah. Kita harus siap akan tantangan yang ada di sekolah. Saya mulai organisasi, salah satunya yaitu Rohis. Di organisasi itulah kita bisa belajar bagaimana tim work dan memecahkan masalah bersama agar tercapai tujuan bersama. Pada kelas 7 sem 2 mulai diadakan pembelajaran daring karena terjadi pandemi COVID19. Jujur pada masa itu saya belum memaksimalkan waktu yang belajar namun malah nermain game saja. 

Pada tahun 2021 ayahku meninggal karena komplikasi dan waktu itu sempat terkena covid 19. Selanjutnya Ayah meninggal dunia pada 24 September 2024, dan hari itu menjadi salah satu hari paling berat dalam hidup saya. Kehilangannya menyisakan lubang besar di hati saya. Namun, justru dari kehilangan itu saya belajar arti tanggung jawab, keteguhan hati, dan pentingnya menjaga keluarga.

Waktu berjalan begitu cepat, dan tanpa terasa aku berada di penghujung masa SMP. Ujian ASPD menjadi tantangan besar bagiku. Aku berusaha belajar dengan sungguh-sungguh, sambil tetap menjalankan tanggung jawab di organisasi.

Akhirnya, hari kelulusan pun tiba. Perasaanku campur aduk antara bahagia, bangga, dan sedih harus berpisah dengan teman-teman dan guru-guru yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku selama tiga tahun. Aku lulus dengan hasil yang memuaskan, dan pengalaman selama di SMP, terutama dalam berorganisasi, menjadi bekal berharga untuk melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya.

 Aku diterima di SMAN 10 Yogyakarta, tempat dimana aku belajar banyak tentang materi di sekolah dan juga berorganisasi. Pada saat kelas 10 saya mengikuti 2 organisasi yang mengharuskan saya untuk memanajemen waktu dengan bijak. Itu berlangsung selama 3 tahun karena saya juga sering aktif dalam panitia event-event sekolah. Pulang malam dan rapat adalah makan sehari-hari saya. Setiap kagiatan pasti ada hikmahnya.

Aku mengikuti organisasi seperti Rohis (2022-2024) menjabat sebagai HRD, Osis Kewirausahaan (2022-2023), bendahara Osis (2023-2024), Event Selaras (2023) sebagai koordinator sie USDA, Event Sebar(2023) sebagai bendahara, Event Sebar (2024) sebagai anggota dari sie Zakat, Panitia MPLS (2024) sebagai PJ kelas, Panitia Classmeet (2024) sebagai bendahara, Event Bhicara (2024) sebagai bendahara, dll. Dengan mengikuti organisasi tersebut saya mendapat banyak sekali pengalaman dan pembelajaran. Harapannya saya menjadi orang yang memiliki banyak relasi dan tetap mampu untuk memanajemen waktu saya. Sepulang sekolah biasanya saya membantu ibu saya untuk berjaga konter. 

Selama tiga tahun belajar di SMAN 10 Yogyakarta, saya menghadapi berbagai tantangan, baik akademik maupun non-akademik. Saya belajar untuk lebih mandiri, bertanggung jawab, serta mampu mengelola waktu dan emosi. Tahun terakhir di SMA menjadi masa yang paling menentukan, di mana saya harus mempersiapkan diri menghadapi Ujian Akhir dan seleksi masuk perguruan tinggi. Di bulan Februari 2025 hari dimana pengumuman siswa Eligible. Alhamdulillah saya masuk ke daftar nama salah satu siswa Eligible itu. Dan inilah fase mengejar PTN di mulai. 

Saat pengumuman SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi) saya mendapat tulisan “Anda Tidak Dinyatakan Lulus SNBP”. Saya Hancur sehancur-hancurnya. Walapun kata orang kita tidak boleh mengarapkan SNBP karena seperti jalur Ghoib, tapi itu merupakan harapan saya sejak kelas 10. Saya sakit sekitar 1 bulanan. Saya mulai belajar UTBK dengan sungguh-sungguh dengan haraparan saya bisa masuk melalui jalur itu. Semua terrasa tambah hancur untuk kedua kalinya ketika saya mendapat tulisan “Anda Tidak Dinyatakan Lulus SNBT). Sejak saat itu saya berusaha untuk mengevaluasi diri saya dan mulai fokus untuk seleksi mandiri. Aku sempat mencoba 7 kali seleksi mandiri dan semua gagal. Alhamdulillah di jalur UNY domisili ini saya di terima. 

Bagaimana jika kamu berada di posisi saya? Sudah tidak sudi untuk membayangkannya lagi. Saat ini saya menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta prodi Akuntansi D4 kampus Kulon Progo. Saya Laju dari Kota Jogja dan saya mengambil kerja untuk di hari Libur saya untuk menambah uang saku saya. Harapan saya untuk kedepannya adalah saya menjadi mahasiswa yang aktif serta mampu untuk mengatur waktu dan mendapat nilai A di setiap matkulnya.Target saya lulus tepat pada waktunya. Saya mengambil Akuntansi karena saya ingin bekerja di bidang Perpajakan. Semoga harapan dan mimpi saya semua tercapai.

Autobiografi ini saya tulis sebagai rangkuman perjalanan hidup saya hingga saat ini. Semua pengalaman yang telah saya lalui menjadi bekal berharga untuk melangkah ke masa depan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat memberi inspirasi bagi yang membacanya. Terima kasih.


Comments

  1. Bagus, semoga tercapai semua cita-citanya dan senantiasa istiqomah dalam berkarya, Aamiiiin

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Konsep Din Al-Islam

Resume UMKF Baiturrahman